Ternyata memiliki pengetahuan
kadang tidak menyenangkan
apalagi ilmu yang sang pemilik tidak dapat mengamalkan
yang suatu saat akan hilang karena tidak digunakan
Ilmu yang hanya membuat diri merasa sendiri
ditengah ramainya kehidupan
tidak ada arti
dan tiada masa depan…
Entahlah, tidak ada yang dapat diajak berdiskusi
untuk sekedar saling berbagi
membuatku tidak lagi dapat dipahami
bahkan oleh diri sendiri
Ketika banyak orang hanya melihat siapa yang berbicara
tanpa perduli apa yang dibicarakan
untuk apa lagi sebuah pengetahuan
ilmu yang materi tidak akan pernah didapatkan…
ilmu hanya digunakan untuk menghilangkan dahaga batin
tapi juga menambah beban jiwa
sungguh membuat prihatin
ketika hidup di dunia
Kenapa aku harus diberikan kesukaan akan membaca
kenapa jiwa ini selalu ingin mencari
tidak cukupkah ilmu ketika mendapat kerja
dan hanya belajar untuk mendapatkan materi
mungkin benar dari ucapan sang Nabi ini
“Ada 3 orang, kata Nabi, yang patut dikasihani, jangan dicela, jangan dikucilkan, hibur, rangkul, sebab mereka ini hidupnya telah amat terpukul. Pertama; Pimpinan yang jatuh hina. Kedua; Orang kaya yang jatuh miskin. Ketiga; Ulama atau ilmuwan yang hidupnya dipermainkan oleh orang-orang bodoh di sekitarnya.”
Aahh, terlalu menghayal, merasa diri seorang ilmuwan apalagi ulama.
Ulama adalah seseorang yang mempelajari agama dengan mendalam, dan biasanya mereka bersekolah di sekolah-sekolah khusus mempelajari agama, sedangkan gue, hanya sebentar mengenyam sekolah khusus agama, itupun sekedar hanya untuk menghabiskan waktu masa kecil, dan sekolah agama hanya seperti extrakulikuler. Tidak pernah fokus belajar ketika di sekolah agama, lebih menitik beratkan sekolah umum. Hanya sepertinya supaya tidak diasuh oleh babysister, sehingga lebih baik ketika sekolah dasar selesai, melanjutkan belajar, tidak dirumah sendirian, sangat berbahaya bagi seorang anak kecil sendiri dirumah bukan…
Ilmuwan, wah jauh bner predikat ini ditempelkan pada diri ini, diri yang bodoh, yang tidak tahu untuk apa semua buku-buku yang telah dibaca, lagipula berapa banyak buku yang telah dibaca…
Ternyata merasa diri termasuk dalam hadis tersebut, membuat tertawa, hayalan yang terlalu jauh dan naif…
hmmm…kenapa sepertinya hanya menghamburkan uang dengan sia-sia melihat buku-buku di lemari dan dikamar, yang bertumpuk kadang tidak karuan…
Kadang terpikir, berapa semua buku tersebut jika dijual…
Cukup menadapat ilmu seperti mereka yang disekitar gue aja
dengan mendengarkan ceramah jika ingin mengetahui sesuatu, atau ikut majlis, atau bertanya kepada yang bergelar ulama…
Teringat perkataan Imam Ali as, mengenai ilmu yang lebih utama daripada harta dunia, ketika beliau as ditanya 10 orang dengan pertanyaan yang sama. Tapi kenapa, akhir-akhir ini gue merasa ilmu yang gue miliki tidak memiliki keutamaan apapun. Tapi kadang terbersit, bukan ilmunya yang tidak memiliki keutamaan, tapi diri ini yang hina, sehingga walaupun memiliki buku-buku yang mungkin buat orang biasa cukup banyak, malah membuat buku-buku tersebut tidak berharga.
Banyak tahupun malah tidak mengenakkan, dianggap sok kritis ketika mengajukan sesuatu pertanyaan yang… entahlah, mungkin terlalu berlebihan buat orang seperti gue…
Aaahhh, melihat teman-teman dan orang-orang sekitar menjalani hidup, bekerja dengan baik, menikah dan memiliki keluarga, tidak banyak pusing dengan hal-hal yang neko-neko, tidak perlu sok idealis, beribadah selayaknya orang banyak, tidak perlu berlagak mencari tahu tentang makna keyakinan, apakah benar keyakinan yang diturunkan oleh prang tua…
kehidupan yang dulu gue cibirkan, sekolah-kerja-cari cwek-menikah-punya anak-tunggu mati, yang terkesan membosankan, ternyata malah jadi hidup yang gue inginkan saat ini…
Hidup yang tidak membuat pusing dan bingung, simple dan mudah…tidak membuat merasa sendiri padahal memiliki banyak teman dan kawan.
Tapi apakah itu hidup yang diharapkan sang Pencipta…
Entahlah, sok tahu sekali, mencari tujuan hidup hakiki, dengan kemampuan dan pengetahuan yang sangat-sangat terbatas dan sedikit ini…
Andai gue gak penasaran akan keyakinan dan agama, mungkin gue gak akan begini, kenapa gue harus penasaran, yang membuat diri gue ini selalu mencari seorang diri, mendatangi komunitas-komunitas rohani, padahal tidak tahu apa yang dicari, dan akhirnya mandapati sebuah lingkungan yang membuat gue banyak membeli buku, membuat gue selalu ingin belajar. Padahal lingkungan tersebut jauh dari rumah. Bahkan kenapa ketika sudah mendapati lingkungan yang baru tersebut, kehausan gue sepertinya malah bertambah, haus mencari lagi, mencari sesuatu yang malah membuat menambah rasa penasaran dan keingintahuan…
Bingung, apakah semuanya ini berkah ataukah hal yang salah,
entahlah, tidak tahu sampai kapan semua ini akan mendapatkan jawabannya, kapan diri ini tidak lagi gundah…
Tidak ngerti deh, kenapa ilmu ini malah tidak membuat puas, sepertinya selalu kurang dan kurang, padahal untuk apa jika mendapat lebih banyak lagi, ilmu yang diri gue tidak bisa menjalaninya apalagi amalkan kepada orang lain…
Ilmu yang akhirnya menjadi sia-sia tiada bermakna, pastinya bukan karena ilmunya tapi karena diri ini yang bodoh dan hina…
aahhhh… gak tahu deh, sampai kapan, Gak Jelas, murni tulisan ngelantur…

Orang tanpa arah
Belum Ada Tanggapan
Belum ada komentar.
